Pernah enggak sih ngerasa, baru aja buka mata di pagi hari, tapi rasanya energi udah terkuras duluan?
Hari ini aku belajar satu hal penting tentang bagaimana pagi kita dimulai. Kalau tarikan pertamanya langsung produktif—buka buku, mulai belajar—biasanya hari itu bakal ngalir dengan cukup baik sampai sore. Tapi kalau paginya udah diisi sama mager, main HP, rebahan, dan scroll-an tanpa arah, wah, bersiaplah menghadapi hari yang rasanya berat banget buat diajak kompromi. Otak kita emang kadang selihai itu nentuin arah mood dalam hitungan menit pertama.
Tapi, drama hari ini enggak berhenti di situ.
Hari ini aku harus dihadapkan sama situasi yang sebenarnya paling aku hindari: melakukan sesuatu yang enggak aku pengen, tapi tetap harus dilakukan karena ada sebuah "perintah". Ada sedikit rasa takut, bahkan sisa-sisa trauma masa lalu yang sempat bikin dada sesak waktu ngerjainnya. Rasanya campur aduk. Tapi, it's okay, pada akhirnya aku bisa menghandlenya dengan kepala dingin. Aku berhasil melewati itu.
Belum cukup sampai di situ, ada lagi ujian kesabaran berikutnya. Rasanya capek banget ketika kita cuma pengen hidup tenang, enggak pernah cari masalah sama orang, tapi tiba-tiba ada aja omongan atau sikap orang di kanan-kiri yang bikin risih. Muncul pertanyaan klasik di kepala: Kenapa harus aku? Kenapa aku yang harus jadi sasaran buat nerima hal-hal enggak enak dari mereka?
Mungkin mereka enggak tahu apa yang benar-benar aku alami atau aku inginkan. Mungkin niat mereka cuma mau menjatuhkan atau sekadar melampiaskan masalah mereka sendiri. Tapi tetap saja, sebagai manusia biasa, rasanya melelahkan sekali.
Ditambah lagi, penyakit lama kambuh: rasa enggak enakan.
Sifat people-pleasing ini kadang bikin diri sendiri tersiksa. Kita dapet sesuatu yang enggak ngenakin hati, tapi karena enggak enak, ya udahlah—terpaksa dipendam, harus sabar nunggu dalam ketidakpastian, dan menelan semuanya sendirian. Komunikasi rasanya jadi berat, minat sama hal-hal di sekitar tiba-tiba lost interest, dan energi mental jatuh ke titik nol.
Kalau diibaratkan baterai, hari ini kapasitasnya benar-benar sisa satu persen.
Tapi malam ini, sebelum hari benar-benar berganti, aku mau bilang ke diri sendiri: Good job, sudah bertahan sejauh ini. Kita memang enggak bisa ngontrol isi kepala atau omongan orang lain di luar sana. Kita juga enggak selalu bisa mendinginkan semua situasi sesuai mau kita. Tapi kita punya kendali penuh untuk memeluk diri sendiri dan bilang bahwa semua lelah hari ini valid.
Besok adalah lembaran baru. Semoga energi baik, ketenangan, dan keberanian untuk lebih tegas sama diri sendiri bisa datang kembali.
Comments
Post a Comment